‹ Semua renungan

Minggu, 6 Januari 2030

Kado yang Ganjil

Kalau kita datang menjenguk bayi yang baru lahir, kita tahu kira-kira apa yang pantas dibawa. Baju hangat, popok, mainan lembut, mungkin amplop untuk orang tuanya. Tidak ada yang membawa obat pengawet jenazah ke sebuah kelahiran. Itu ganjil, bahkan tidak sopan.

Namun itulah salah satu dari tiga persembahan para majus. Emas, kemenyan, dan mur. Emas kita mengerti, itu untuk seorang raja. Kemenyan pun masuk akal, itu dupa yang naik dalam ibadah, persembahan untuk yang ilahi. Tetapi mur? Mur adalah rempah yang dipakai untuk meminyaki jenazah. Sebuah kado kematian, diberikan di tepi palungan, kepada seorang bayi.

Gereja sejak dahulu membaca ketiga kado ini sebagai satu pengakuan iman yang utuh. Emas mengaku Dia Raja. Kemenyan mengaku Dia Allah. Dan mur mengaku Dia manusia yang sungguh akan mati. Di ayunan sudah tersembunyi bayang salib. Sukacita Natal dan luka Jumat Agung ternyata tidak pernah benar-benar terpisah. Para majus mungkin tidak sepenuhnya paham apa yang mereka bawa, tetapi kado mereka berbicara lebih dalam daripada yang mereka sadari.

Inilah yang membuat Epifani lebih dalam daripada sekadar kisah bintang yang indah. Allah yang menampakkan diri bukan Allah yang menghindar dari penderitaan manusia. Ia datang justru untuk menempuhnya sampai habis, sampai mur itu terpakai. Kado kematian di tepi palungan itu justru menjadi tanda bahwa tidak ada satu pun kegelapan hidup kita yang tidak ikut Ia masuki.

Bacaan kedua menambahkan satu keheranan lagi. Paulus menyebutnya rahasia yang dahulu tersembunyi dan kini dinyatakan, yaitu bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris. Para majus itu orang asing, bukan umat pilihan, tidak hafal kitab nabi. Toh mereka yang pertama datang menyembah. Pintu keselamatan ternyata dibuka jauh lebih lebar daripada yang diduga siapa pun.

Maka Epifani sebenarnya berbicara tentang kita. Kita ini keturunan bangsa-bangsa jauh itu, yang dahulu tidak diperhitungkan, kini dipanggil masuk. Dan Dia yang kita sembah adalah Raja yang menjadi Allah dan tidak malu menjadi manusia yang menempuh maut.

Pertanyaannya sederhana. Kalau ketiga majus membawa emas, kemenyan, dan mur, apa yang kita bawa? Barangkali yang paling jujur ialah membawa diri kita apa adanya, dengan takhta kecil kita, ibadah kita, dan luka-luka kita, lalu meletakkan semuanya di kaki-Nya.

Tuhan Yesus, Raja, Allah, dan sesama kami yang menempuh derita, kami datang seperti para majus dari jauh. Terimalah persembahan hidup kami, yang megah maupun yang terluka. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →