‹ Semua renungan

Jumat, 4 Januari 2030

Suara, Bukan Sabda

Dalam sebuah acara, orang yang paling penting biasanya bukan pembawa acara. Pembawa acara berbicara paling banyak, memegang mikrofon paling lama, tetapi tugasnya cuma satu: menghantar tamu utama, lalu mundur. Kalau ia lupa diri dan menganggap dirinya bintang malam itu, acaranya jadi kacau.

Yohanes Pembaptis paham betul posisinya. Ketika para imam datang bertanya, siapakah engkau, ia tidak berlagak. Aku bukan Mesias, katanya. Bukan Elia, bukan nabi yang dinanti. Lalu apa? Jawabnya indah sekali: aku ini suara orang yang berseru di padang gurun. Bukan sabda, hanya suara. Sabda itu Dia yang datang kemudian, yang tali kasut-Nya pun ia merasa tidak layak membuka.

Ada beda besar antara suara dan sabda. Suara hanya bergema sesaat lalu lenyap. Sabda tinggal dan berisi. Yohanes rela menjadi yang lenyap, asal Sabda itu tinggal. Ia besar justru karena tahu ia bukan yang utama.

Kerendahan hati seperti ini sekarang barang langka. Kita hidup di zaman ketika setiap orang ingin menjadi sabda, ingin didengar, ingin dikenang. Padahal panggilan kita sering kali sama seperti Yohanes: menjadi suara yang menghantar orang lain kepada Kristus, lalu rela mundur ke belakang.

Hari ini ada baiknya kita bertanya jujur. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam pelayanan, kita ingin menjadi suara yang menunjuk kepada Tuhan, atau sabda yang menuntut perhatian untuk diri sendiri?

Tuhan, jadikanlah aku suara yang menghantar orang kepada-Mu, dan berilah aku kerelaan untuk mundur agar Engkau makin tampak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →