Kamis, 3 Januari 2030
Perintah Bangun
Ada satu ayat pendek yang paling sulit dilakukan pukul lima pagi: bangkitlah. Selimut terasa hangat, kasur menahan punggung, dan seluruh tubuh menawar lima menit lagi. Kita semua tahu bagaimana rasanya diperintah bangun ketika badan masih ingin tidur.
Yesaya membuka nubuatnya justru dengan perintah itu. Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang. Perhatikan urutannya. Terang itu datang dari Allah, bukan hasil usaha kita. Tetapi kata bangkitlah tetap ditujukan kepada manusia. Allah menyalakan fajar, namun tidak memaksa siapa pun membuka mata. Matahari boleh terbit sepenuh langit, orang yang menutup jendela tetap tinggal dalam gelap.
Di sinilah para majus mengajar kita. Mereka melihat satu bintang, lalu bangkit. Mereka mengemasi bekal, meninggalkan rumah yang nyaman, menempuh padang yang jauh. Sekiranya mereka hanya mengagumi bintang itu dari beranda sambil berkata betapa indahnya, kisah ini tidak akan pernah sampai ke Betlehem.
Iman memang begitu. Ia bukan sekadar menyadari bahwa terang sudah ada. Ia adalah keputusan untuk bangkit dan berjalan menuju terang itu. Berapa banyak rahmat yang sudah bersinar di hidup kita, tetapi kita biarkan lewat karena enggan beranjak?
Tahun masih muda. Barangkali yang Tuhan minta hari ini sesederhana kata Yesaya: bangun. Tinggalkan selimut kebiasaan lama, dan melangkahlah ke arah cahaya yang sudah lebih dulu disiapkan-Nya untuk kita.
Tuhan, terang-Mu sudah terbit sejak lama. Bangunkanlah aku dari kemalasan yang nyaman, dan gerakkanlah kakiku menuju cahaya-Mu. Amin.