‹ Semua renungan

Rabu, 2 Januari 2030

Kabut yang Menyingkap

Siapa pernah naik gunung pagi-pagi tahu rasanya. Di puncak, kabut turun tebal, dunia seakan hilang, jarak pandang tinggal beberapa langkah. Lalu perlahan matahari naik, kabut terangkat, dan lembah yang luas itu terbentang di bawah. Gunung-gunung itu sebenarnya sudah ada sejak tadi. Yang berubah bukan pemandangannya, melainkan tabir yang menutupinya.

Hari raya yang kita rayakan pekan ini bernama Epifani. Kata itu dari bahasa Yunani, epiphaneia, yang berarti penampakan, sesuatu yang muncul ke permukaan. Allah tidak baru saja menjadi terang hari itu. Ia sudah bersinar sejak semula. Yang terjadi di Betlehem adalah kabutnya tersingkap, sehingga para majus dari jauh pun bisa melihat apa yang selama ini tersembunyi.

Yesaya sudah menubuatkannya. Kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa, tetapi terang TUHAN terbit atasmu. Kegelapan itu nyata, jangan kita pura-pura tidak ada. Namun kegelapan tidak pernah menjadi kata terakhir. Ia hanya kabut yang menunggu waktunya diangkat.

Hari ini Gereja mengenang Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, dua sahabat yang menjadi guru besar iman di abad keempat. Zaman mereka penuh perdebatan yang mengaburkan siapa sebenarnya Kristus. Tugas hidup mereka justru menyingkap kabut itu dengan sabar, agar wajah Allah kembali tampak jernih bagi umat. Mereka tidak menciptakan terang, mereka hanya menunjuk ke arahnya.

Barangkali doa kita hari ini tidak perlu muluk. Bukan minta agar Allah datang, sebab Ia sudah di sini. Melainkan minta agar kabut di mata kita diangkat, supaya kita sanggup melihat Dia yang sejak tadi tidak pernah pergi.

Tuhan, Engkau tidak pernah jauh, hanya mataku yang sering tertutup kabut. Singkapkanlah, agar aku melihat terang-Mu yang sejak semula bersinar. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →