‹ Semua renungan

Selasa, 1 Januari 2030

Sepatah Nama

Di kampung, memberi nama kepada bayi bukan perkara sepele. Kakek dan nenek dilibatkan. Ada yang menunggu hari baik, ada yang membuka buku mencari arti, ada yang menimbang bunyinya di lidah berkali-kali. Sebab orang tahu, nama itu akan dipanggil ribuan kali seumur hidup, dan diam-diam ikut membentuk orang yang menyandangnya.

Hari pertama tahun ini Gereja justru sibuk dengan sebuah nama. Dalam Injil, ketika genap delapan hari, Anak itu disunat dan diberi nama Yesus, nama yang sudah disebut malaikat jauh sebelum Ia dikandung. Nama itu bukan usul Yusuf, bukan pilihan Maria. Nama itu turun dari atas. Dan artinya sederhana sekaligus mengguncang: Tuhan menyelamatkan.

Bacaan pertama membawa kita lebih ke belakang lagi, ke rumusan berkat Harun yang sampai hari ini masih diucapkan di gereja-gereja. Perhatikan kalimat penutupnya. Demikianlah mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka. Ternyata diberkati berarti dipakaikan nama Allah. Seperti anak kecil yang ke mana-mana membawa nama keluarganya, orang beriman berjalan sambil menyandang nama Pemilik hidupnya.

Paulus menutup lingkaran ini dalam bacaan kedua. Karena kita adalah anak, Allah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa. Justru karena kita memakai nama-Nya, kita berani memanggil Dia dengan nama yang paling akrab. Bukan lagi hamba yang menyapa majikan dari kejauhan, melainkan anak yang naik ke pangkuan. Dan seorang anak tidak perlu setiap hari membuktikan kelayakannya untuk dipanggil anak, ia hanya perlu hidup sesuai namanya.

Maka mari kita perhatikan bagaimana Maria menyambut semua ini. Palungan itu ramai. Gembala datang tergopoh, cerita tentang malaikat berhamburan, orang-orang heran. Di tengah kegaduhan itu Lukas memotret satu gerak yang sunyi: Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Ia tidak buru-buru menyimpulkan, tidak sibuk menyebarkan. Ia menyimpan nama itu, lalu membiarkannya tumbuh dalam hati.

Kita membuka tahun yang baru dengan segala rencana dan kecemasan yang belum bernama. Barangkali langkah pertama bukan menyusun daftar keinginan, melainkan mengingat nama siapa yang kita pakai. Kita ini anak, bukan hamba. Yang menopang tahun ini bukan tekad kita yang gampang kendur, melainkan Dia yang namanya berarti: Tuhan menyelamatkan.

Ya Abba, ya Bapa, di hari pertama ini letakkanlah nama-Mu atas hidupku. Ajarilah aku menyimpan karya-Mu dalam hati seperti Maria, dan berjalan sepanjang tahun sebagai anak-Mu, bukan hamba yang ketakutan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →