‹ Semua renungan

Minggu, 30 Desember 2029

Sukacita yang Dibagi

Menjelang tutup tahun, banyak rumah kembali ramai. Anak-anak yang merantau pulang, meja makan yang biasanya sepi mendadak penuh, dapur bekerja tanpa henti. Ada sukacita khas yang hanya muncul ketika orang-orang yang saling mengasihi berkumpul kembali di satu atap. Sukacita itu tidak bisa dinikmati sendirian. Ia baru terasa penuh ketika dibagi.

Santo Yohanes menulis tentang sukacita seperti itu, tetapi pada tingkat yang lebih dalam. "Apa yang telah kami lihat dan dengar, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya." Lalu ia menutup, "Semuanya ini kami tuliskan supaya sukacita kami menjadi sempurna."

Perhatikan, sukacita Yohanes belum sempurna selama ia menyimpannya sendiri. Ia baru genap ketika dibagikan, ketika orang lain ikut masuk ke dalam persekutuan yang sama. Iman ternyata bukan urusan pribadi antara aku dan Tuhan saja. Ia selalu menarik kita ke dalam sebuah keluarga.

Hari ini Gereja merayakan Keluarga Kudus, Yesus, Maria, dan Yusuf. Allah memilih tidak datang sebagai tokoh yang menyendiri, melainkan tumbuh di dalam sebuah keluarga: ada yang mengasuh, ada yang melindungi, ada yang menanggung susah bersama. Sang Firman hidup pun mau mengenal rasanya punya rumah, punya meja, punya orang-orang yang menyebut-Nya dengan sayang.

Dari keluarga kecil di Nazaret itulah kita belajar bahwa kekudusan tidak tumbuh dalam kesendirian, melainkan dalam sabar menanggung satu sama lain hari demi hari. Persekutuan tidak selalu manis. Ada gesekan, ada luka, ada yang harus diampuni berulang kali. Justru di situ kasih diuji dan dimurnikan.

Maka merayakan Keluarga Kudus bukan berarti membayangkan sebuah keluarga tanpa masalah, seolah Yusuf dan Maria tidak pernah cemas atau lelah. Mereka pernah kehilangan Yesus di Bait Allah selama tiga hari, pernah lari mengungsi di tengah malam, pernah menanggung bisik-bisik tetangga soal kelahiran yang tidak biasa. Yang membuat keluarga itu kudus bukan tidak adanya kesulitan, melainkan bahwa di tengah semua kesulitan itu mereka tetap saling memegang, dan tetap berpegang pada Tuhan.

Keluarga macam apa yang sedang kubangun: yang menyimpan sukacita sendiri, atau yang membaginya sampai penuh?

Tuhan, Engkau bertumbuh dalam sebuah keluarga dan mengajar kami bahwa sukacita menjadi penuh ketika dibagi. Kuduskanlah keluargaku, dengan segala gesekan dan lukanya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →