‹ Semua renungan

Sabtu, 29 Desember 2029

Kaki Pembawa Kabar

Sebelum ada kabar yang cepat, sebuah desa menanti berita perang dengan cara yang mendebarkan. Semua mata tertuju ke jalan setapak di puncak bukit. Bila seorang pelari muncul di sana, jantung berdebar. Dari cara ia berlari, dari raut wajahnya saat mendekat, orang sudah bisa menebak: apakah yang ia bawa kabar duka, atau kabar kemenangan.

Yesaya melukiskan sukacita justru dari kaki pembawa kabar itu. "Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik." Yang disebut indah bukan wajahnya, bukan pakaiannya, melainkan kakinya. Kaki yang berlari membawa kabar baik selalu indah di mata yang menanti.

Natal adalah kabar baik yang paling agung, dan cara Allah mengantarnya tetap mengejutkan. Surat Ibrani mengatakannya, "Setelah pada zaman dahulu Allah berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya." Dahulu Ia mengirim pembawa kabar. Kini Sang kabar itu sendiri yang datang. Allah tidak lagi berkirim pesan lewat pelari di bukit. Ia sendiri turun ke jalan.

Ada beda besar antara menerima surat dan menerima orangnya. Surat bisa menghibur, tetapi ia tetap benda mati yang mewakili si penulis dari kejauhan. Ketika orang yang kita rindukan akhirnya datang sendiri, berdiri di ambang pintu, tidak ada lagi jarak yang tersisa. Itulah yang terjadi pada Natal. Allah berhenti berkirim pesan lewat perantara. Ia datang sendiri, dengan wajah yang bisa dipandang, suara yang bisa didengar, tangan yang bisa digenggam. Sejak itu, mengenal Allah tidak lagi cukup dari jauh.

Dan kabar itu masih membutuhkan kaki. Sebab berita sebaik apa pun tak berguna jika tak ada yang membawanya sampai ke rumah-rumah. Setiap orang yang membawa damai kepada tetangga, kepada keluarga yang retak, kepada yang berduka, sedang meminjamkan kakinya untuk kabar baik Natal.

Yesaya menutup dengan gambar sukacita bersama, "Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem!" Kabar baik selalu berakhir dalam kegembiraan yang dibagi, bukan disimpan sendiri. Sukacita Natal tidak dimaksudkan untuk dikurung di dalam rumah ibadat, melainkan dibawa keluar sampai ke jalan-jalan tempat orang menanti.

Kepada siapa kakiku hari ini bisa membawa sepotong kabar damai Natal?

Tuhan, Engkau sendiri turun menjadi kabar baik bagi kami. Pinjamlah kakiku untuk membawa damai-Mu kepada mereka yang menanti di jalan mereka masing-masing. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →