Jumat, 28 Desember 2029
Lari di Tengah Malam
Kemarin Yohanes menulis tentang Firman hidup yang ia lihat dan raba. Hari ini ia melanjutkan, "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan." Namun justru di hari yang sama, Injil menyuguhkan salah satu kisah paling gelap: bayi-bayi Betlehem dibunuh atas titah seorang raja yang takut kehilangan takhta.
Keluarga Kudus sendiri harus lari. "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir." Malam itu Yusuf membangunkan Maria, menggendong bayi, dan berangkat dalam gelap menuju negeri asing. Sang Juruselamat memulai hidup-Nya sebagai pengungsi, di antara orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah demi menyelamatkan nyawa.
Kisah ini terlalu sering terulang di dunia kita. Anak-anak yang menjadi korban kuasa yang mereka tak pahami. Keluarga yang lari di tengah malam. Ratapan seperti yang dilukiskan nabi, "Terdengarlah suara di Rama, Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur."
Gereja tidak menyembunyikan tangis ini di balik gemerlap Natal. Justru ditaruhnya di sini, supaya kita ingat: Terang yang lahir kemarin datang ke dunia yang sungguh gelap, dan Ia memihak yang paling lemah, yang paling tak berdaya.
Adakah tangis anak-anak dan mereka yang terusir yang selama ini kupilih untuk tidak kudengar?
Tuhan, Engkau lahir di antara yang terancam dan terusir. Buka telingaku pada tangis yang tak mau kudengar, dan jadikan aku penghibur bagi yang lemah. Amin.