Kamis, 27 Desember 2029
Yang Diraba dengan Tangan
Ada perbedaan besar antara mendengar kabar burung dan menyaksikan sendiri. Kabar yang berpindah dari mulut ke mulut cepat berubah, ditambah di sana, dikurangi di sini. Tetapi orang yang berkata, "Aku melihatnya sendiri, aku menyentuhnya dengan tanganku," berbicara dengan bobot yang berbeda. Ia tidak sedang meneruskan cerita orang. Ia sedang bersaksi.
Santo Yohanes, rasul yang kita kenang hari ini, membuka suratnya dengan penekanan seperti itu. "Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu." Empat kali ia menekankan tubuh: didengar, dilihat, disaksikan, diraba.
Ini bukan iman yang melayang di awan. Yohanes menulis tentang Allah yang bisa disentuh, yang pernah bersandar di dekatnya, yang tangan-Nya nyata. Natal justru berarti itu: yang tak terhingga menjadi sedemikian dekat sampai bisa diraba jari manusia.
Maka ketika pagi itu ia berlari ke kubur, ia masuk, melihat, dan percaya. Iman Yohanes selalu berpijak pada yang ia alami sendiri, bukan pada yang ia dengar sepintas dari orang lain.
Imanku selama ini lebih banyak berupa kabar yang kudengar, atau perjumpaan yang sungguh kualami?
Tuhan, jangan biarkan imanku berhenti sebagai cerita orang. Biarkan aku sungguh mengalami Engkau, sampai aku pun bisa bersaksi. Amin.