‹ Semua renungan

Rabu, 26 Desember 2029

Sehari Setelah Pesta

Ada yang terasa janggal pada penanggalan Gereja. Baru kemarin kita menyanyikan malam kudus, memandang bayi di palungan, mengucap damai. Hari ini, sehari sesudah pesta, kita disuguhi kisah seorang yang dirajam batu sampai mati. Dari lagu Natal langsung ke lemparan batu.

Stefanus adalah martir pertama. Ia penuh Roh Kudus, wajahnya bercahaya, tetapi justru itu yang membuat orang marah. Sementara mereka melemparinya, ia berdoa dua hal yang mengingatkan kita pada Tuhannya. "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku," dan "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." Kata-kata yang hampir sama dengan yang diucapkan Yesus di salib.

Rupanya penempatan ini tidak keliru. Gereja seakan mau berkata, inilah arah dari palungan itu. Bayi yang kemarin kita puja lahir bukan untuk membuat hidup jadi manis dan aman, melainkan untuk memberi kita keberanian mengasihi sampai batas, bahkan mengampuni mereka yang melempari kita.

Yesus sendiri sudah memperingatkan, "Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat." Mengikuti Sang bayi Natal ternyata bukan jalan yang selalu berhias lampu. Kadang ia jalan yang berbatu.

Adakah kebaikan yang kutahan hanya karena takut ditolak atau dilempari?

Tuhan, beri aku keberanian Stefanus untuk tetap mengasihi dan mengampuni, bahkan ketika kebaikan dibalas dengan batu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →