‹ Semua renungan

Minggu, 23 Desember 2029

Allah yang Menyertai

Ada jenis kesepian yang tidak sembuh oleh keramaian. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang dan tetap merasa sendirian, karena yang ia rindukan bukan kerumunan, melainkan satu kehadiran yang sungguh menyertai. Ditemani, bukan sekadar dikelilingi.

Ke dalam kerinduan sedalam itulah nama Imanuel diucapkan. Nabi Yesaya menghadap Raja Ahas yang sedang ketakutan menghadapi musuh. Allah menawarkan sebuah tanda, apa saja, "sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Anehnya, Ahas menolak. "Aku tidak mau meminta." Ia berkedok kesalehan, padahal sebenarnya ia lebih percaya pada perhitungan politiknya sendiri daripada pada Allah.

Namun Allah tetap memberi tanda, bahkan kepada raja yang menolak. "Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." Nama itu berarti Allah menyertai kita. Bukan Allah yang mengamati kita dari jauh, melainkan Allah yang memutuskan untuk hadir, tinggal, menyertai.

Berabad kemudian tanda itu digenapi di Nazaret. Malaikat datang kepada seorang perawan bernama Maria dengan salam yang mengejutkan, "Tuhan menyertai engkau." Kata yang sama kembali: menyertai. Dan berbeda dari Ahas, Maria tidak menolak tanda. Ia bertanya jujur, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" lalu menyerahkan diri, "Jadilah padaku menurut perkataanmu."

Di situlah dua sikap manusia dipertentangkan. Ahas menolak Allah yang menawarkan diri, karena merasa lebih aman mengurus dirinya sendiri. Maria membuka diri, meski itu berarti hidupnya berubah total. Yang satu menutup pintu, yang lain berkata masuklah.

Menyertai selalu berarti risiko bagi yang disertai. Menerima Allah masuk ke dalam hidup berarti membiarkan Dia mengubah rencana, menggeser kenyamanan, menuntun ke arah yang tidak kita duga. Ahas diam-diam tahu itu, dan ia takut kehilangan kendali. Maria pun tahu, dan ia tetap membuka diri meski harganya besar. Rupanya kesepian yang paling dalam tidak disembuhkan oleh Allah yang aman dan berjarak, melainkan oleh Allah yang berani hadir sedekat itu, sampai sanggup mengubah kita dari dalam.

Natal tinggal dua hari lagi. Pertanyaannya bukan apakah Allah mau datang menyertai kita. Ia sudah memutuskan mau. Pertanyaannya, apakah kita seperti Ahas yang menolak, atau seperti Maria yang membuka pintu.

Di mana aku lebih memilih mengurus diri sendiri daripada membiarkan Allah sungguh menyertaiku?

Tuhan Imanuel, Engkau memilih untuk menyertai, bukan menjauh. Beri aku hati Maria yang berani membuka pintu bagi kehadiran-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →