‹ Semua renungan

Jumat, 21 Desember 2029

Keputusan dalam Diam

Kemarin kita menyusuri daftar panjang leluhur Yesus, dan daftar itu berhenti pada satu nama: Yusuf, suami Maria. Hari ini kita berhenti sejenak pada orang ini, yang namanya jarang berbicara dalam Injil, tetapi tindakannya banyak berbicara.

Yusuf menghadapi kabar yang mengguncang. Tunangannya mengandung, dan ia tahu anak itu bukan darinya. Di kampung mana pun, kabar seperti ini cepat menjadi bahan gunjingan. Yusuf punya hak untuk marah, untuk mempermalukan, untuk membuat perhitungan di muka umum.

Ia memilih jalan lain. "Karena ia seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." Sebelum Allah sempat berbicara lewat mimpi, Yusuf sudah lebih dahulu memilih untuk tidak melukai. Keadilannya tidak berteriak. Ia bekerja dalam diam.

Barangkali di situlah letak kebesarannya. Nabi Yeremia menubuatkan seorang Tunas adil bagi Daud, yang akan memerintah dengan keadilan. Dan keadilan sejati, seperti yang ditunjukkan Yusuf, sering justru berupa kelembutan yang menahan diri, bukan kemarahan yang membalas.

Ketika aku dilukai, apakah keadilanku berteriak, atau sanggup bekerja dalam diam seperti Yusuf?

Tuhan, ajarlah aku keadilan Yusuf yang tidak mempermalukan, yang memilih menahan diri sebelum membalas. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →