‹ Semua renungan

Senin, 17 Desember 2029

Bintang dari Kejauhan

Di kota, langit malam nyaris kosong. Cahaya lampu yang berlebih membuat bintang-bintang tenggelam, dan kita lupa bahwa mereka masih ada. Baru ketika berada di kampung yang jauh dari listrik, kita menengadah dan terkejut: langit ternyata penuh sesak oleh bintang yang selama ini tertutup terang buatan kita sendiri.

Hari-hari terakhir Adven ini seperti langit malam itu. Gereja mulai menyebut Sang Terang yang dinanti dengan nama-nama purba, dan salah satu nubuat tertua diucapkan justru oleh mulut yang tak terduga. Bileam, seorang tukang tenung dari luar Israel, dibuat bernubuat, "Bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel."

Bintang itu terbit dari kejauhan. "Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat." Nubuat sering begitu, menunjuk sesuatu yang masih jauh di ufuk, yang baru akan digenapi berabad kemudian di sebuah palungan.

Dalam Injil, para imam kepala menolak melihat. Ketika Yesus bertanya balik soal baptisan Yohanes, mereka memilih berkata, "Kami tidak tahu," padahal sebenarnya takut mengakui. Ada orang yang tak melihat bintang bukan karena langit gelap, melainkan karena mereka menyalakan terlalu banyak terang sendiri.

Terang buatan apa yang membuatku sulit melihat tanda-tanda Tuhan yang sederhana?

Tuhan, redupkan terang-terangku sendiri yang menyilaukan, supaya aku sanggup melihat bintang-Mu yang terbit dari kejauhan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →