‹ Semua renungan

Minggu, 16 Desember 2029

Sukacita yang Sabar

Tidak ada orang yang lebih paham arti menunggu selain petani. Ia menanam, lalu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempercepat. Ia tidak bisa menarik tunas supaya cepat tinggi, tidak bisa memaksa hujan turun sesuai jadwalnya. Yang bisa ia lakukan hanya merawat, dan menunggu, dan percaya bahwa tanah sedang bekerja diam-diam.

Rasul Yakobus justru memilih gambaran itu untuk mengajar kesabaran iman. "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat."

Hari Minggu ini disebut Gaudete, hari bersukacita. Di tengah masa penantian, Gereja seakan berhenti sejenak dan berkata, bergembiralah, yang dinanti sudah dekat. Namun sukacita ini bukan sukacita orang yang segalanya sudah beres. Ia sukacita petani yang benihnya belum jadi panen, tetapi hatinya sudah tenang karena percaya.

Bahwa kesabaran dan sukacita bisa berjalan bersama, terbukti dalam kisah Yohanes Pembaptis. Dari dalam penjara, ia mengirim murid bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?" Sang nabi besar pun bisa ragu ketika hidupnya gelap. Yesus tidak memarahinya. Ia hanya menunjuk buah yang sudah kelihatan: "Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, kepada orang miskin diberitakan kabar baik."

Itulah dasar sukacita kita. Bukan karena penantian sudah usai, melainkan karena tanda-tanda bahwa Allah sedang bekerja sudah mulai tampak. Yesaya melihatnya jauh hari: padang gurun bergirang, yang lemah dikuatkan, yang tawar hati diberi hati baru.

Barangkali di sinilah kita perlu belajar dari petani sekali lagi. Ia tidak menghitung hari dengan cemas, tidak pula duduk bermalas-malasan menunggu keajaiban. Ia bangun setiap pagi, turun ke ladang, mencabut gulma, mengairi tanaman, lalu menyerahkan sisanya kepada tanah dan langit. Sukacita dan kesabaran bertemu justru dalam kerja yang tenang seperti itu: melakukan bagian kita dengan setia, dan mempercayakan selebihnya kepada Tuhan. Orang yang hidup begini tidak mudah putus asa ketika hasil belum kelihatan, sebab ia tahu benih sejati selalu bekerja dalam diam.

Bisakah aku bersukacita hari ini bukan karena semua sudah selesai, melainkan karena percaya Tuhan sedang mengerjakannya?

Tuhan, beri aku sukacita seorang petani: tenang menanti, tekun merawat, yakin bahwa Engkau sedang bekerja di dalam yang belum kelihatan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →