Sabtu, 15 Desember 2029
Bara yang Dikira Padam
Orang yang biasa memasak dengan kayu tahu bahwa api tidak pernah benar-benar cepat mati. Bara yang tampak padam di pagi hari sering masih menyimpan panas di baliknya. Cukup ditiup pelan dan diberi ranting kering, ia menyala lagi. Yang kelihatan sudah selesai ternyata hanya sedang menunggu.
Kitab Sirakh melukiskan nabi Elia dengan bahasa api. "Tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar." Ia diangkat ke langit dalam kereta berapi, dan orang percaya suatu hari ia akan kembali untuk memulihkan segala sesuatu. Bagi bangsa itu, Elia adalah bara yang tak pernah sungguh padam.
Maka murid-murid bertanya kepada Yesus, kapan Elia yang dijanjikan itu datang. Jawaban Yesus mengejutkan. "Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia." Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. Nyala yang dinanti-nanti itu ternyata sudah berkobar di depan mata, hanya saja tidak dikenali.
Kita pun kerap begitu. Kita menanti Allah bertindak lewat peristiwa besar dan mencolok, sementara Ia sudah lama menyala dalam bentuk yang sederhana: seorang yang menegur kita dengan jujur, sebuah kesempatan kecil untuk berbalik. Bara sudah ada. Tinggal kita mengenalinya, atau membiarkannya padam.
Nyala Allah dalam bentuk sederhana apa yang barangkali sedang kuabaikan hari ini?
Tuhan, buka mataku untuk mengenali Engkau yang datang dalam rupa sederhana. Jangan biarkan aku menunggu yang besar sambil melewatkan yang nyata. Amin.