Jumat, 14 Desember 2029
Anak-anak di Pasar
Siapa yang pernah mengajak anak kecil bermain tahu betapa sulitnya menyenangkan hati yang sudah malas bermain. Diajak menari, ia diam. Diajak main sedih-sedihan, ia menolak juga. Bukan permainannya yang salah, melainkan hatinya yang memang sedang tak mau ikut apa pun.
Yesus memakai gambaran itu untuk menyindir zaman-Nya. "Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung." Lalu Ia menunjuk contohnya.
Kemarin kita mendengar betapa besar Yohanes Pembaptis di mata Yesus. Hari ini kita lihat bagaimana orang memperlakukannya. Yohanes datang berpuasa, tidak makan dan minum, lalu dituduh kerasukan setan. Yesus datang makan dan minum bersama orang berdosa, lalu dicap pelahap dan peminum. Yang satu terlalu keras, yang lain terlalu lunak. Selalu ada alasan untuk menolak.
Begitulah hati yang sudah menutup diri. Ia tidak sedang mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran untuk tetap di tempat. Santo Yohanes dari Salib, yang kita kenang hari ini, justru mengajarkan jalan sebaliknya: berhenti menuntut Allah tampil sesuai selera kita, dan membiarkan Dia datang dengan cara-Nya sendiri.
Dengan alasan apa aku sering menolak sapaan Tuhan yang datang tidak seperti yang kumau?
Tuhan, ampuni hatiku yang suka mencari alasan. Ajar aku menyambut Engkau dengan cara apa pun Engkau datang. Amin.