Selasa, 11 Desember 2029
Di Manakah Engkau
Anak kecil yang baru memecahkan gelas punya naluri yang sama di mana pun: bersembunyi. Ia merunduk di balik pintu, di kolong meja, di mana saja asal tidak terlihat. Lucunya, ia sering masih kelihatan. Kaki mungil menyembul, atau tawa yang tak tertahan membocorkan tempatnya. Ia bersembunyi bukan karena berhasil menghilang, melainkan karena malu bertemu mata.
Kisah pertama hari ini adalah kisah persembunyian yang paling tua. Sesudah melanggar, Adam dan Hawa mendengar langkah Allah di taman, lalu bersembunyi. Dan Allah memanggil dengan pertanyaan yang sampai hari ini masih menggema, "Di manakah engkau?"
Pertanyaan itu aneh bila dipikir. Bukankah Allah tahu di mana mereka? Tentu tahu. Ia bertanya bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk memberi manusia kesempatan keluar. Allah tidak menyeret Adam dari semak. Ia memanggil, dan menunggu.
Sejak hari itu, manusia mahir bersembunyi. Kita bersembunyi di balik kesibukan, di balik alasan, di balik topeng baik-baik saja. Kita menjauh dari Allah persis ketika kita paling butuh didekati, karena kita malu bertemu mata-Nya.
Yang menarik, Allah tidak pernah lelah memanggil. Ia tidak berteriak marah, tidak pula menyeret paksa. Ia terus bertanya dengan lembut, di manakah engkau, seperti orang tua yang tahu persis anaknya meringkuk di balik pintu dan memberi waktu supaya anak itu berani keluar sendiri. Sepanjang Kitab Suci, panggilan itu terdengar berulang-ulang, kepada Adam, kepada Musa, kepada para nabi, sampai akhirnya kepada seorang perawan di Nazaret. Dan setiap kali, yang ditunggu Allah sama: bukan manusia yang sempurna, melainkan manusia yang mau menjawab.
Ke dalam sejarah persembunyian itulah Maria hadir sebagai kebalikannya. Ketika malaikat datang membawa panggilan yang menakutkan, ia tidak lari dan tidak menutup diri. Ia bertanya jujur, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" lalu menyerahkan diri, "Jadilah padaku menurut perkataanmu."
Di situlah letak keindahan hari raya ini. Maria yang dikandung tanpa noda adalah manusia yang tidak perlu bersembunyi dari Allah. Wajahnya terbuka penuh di hadapan-Nya. Dan itulah sebenarnya tujuan kita semua: bukan menghilang dari Allah, melainkan berani berkata, ini aku.
Di sudut mana hidupku aku masih bersembunyi dari tatapan-Nya?
Tuhan, Engkau memanggil namaku bahkan ketika aku bersembunyi. Beri aku keberanian Maria untuk keluar dan berkata, ini aku. Amin.