Senin, 10 Desember 2029
Empat Pengusung
Di kampung yang jalannya sempit dan jauh dari rumah sakit, mengangkut orang sakit adalah urusan bersama. Tetangga datang tanpa diminta. Pintu dicopot untuk jadi tandu, bahu-bahu bergantian, ada yang berlari mendahului mencari kendaraan. Seorang yang sakit sering sampai ke tempat pertolongan bukan karena kakinya sendiri, melainkan karena kaki banyak orang.
Injil hari ini menampilkan pemandangan seperti itu. Seorang lumpuh dibawa beberapa orang kepada Yesus. Karena rumah penuh sesak, mereka tidak menyerah. Mereka naik ke atap, membongkarnya, lalu menurunkan orang itu tepat di depan Yesus. Bayangkan repotnya. Bayangkan keringatnya.
Lalu ada satu kalimat yang mudah terlewat. "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: Hai saudara, dosamu sudah diampuni." Iman mereka. Bukan iman si lumpuh, melainkan iman orang-orang yang menggotongnya. Ada orang yang disembuhkan karena percaya. Ada juga yang sampai kepada Tuhan karena ada yang percaya untuknya.
Ini menghibur sekaligus menantang. Menghibur, karena berarti iman kita yang lemah bisa dipapah iman orang lain. Menantang, karena berarti ada orang yang keselamatannya mungkin bergantung pada kesediaan kita menggotongnya dalam doa dan perbuatan.
Siapa yang perlu kugotong kepada Tuhan hari ini, karena ia sedang tak sanggup berjalan sendiri?
Tuhan, ketika ada yang tak mampu datang sendiri kepada-Mu, jadikan aku salah satu tangan yang mengusungnya. Amin.