‹ Semua renungan

Minggu, 9 Desember 2029

Meratakan Jalan

Menjelang kunjungan pejabat penting ke sebuah desa, ada satu pemandangan yang bisa ditebak. Jalan tiba-tiba diperbaiki. Lubang-lubang ditambal, rumput di tepi dibabat, gapura dicat ulang. Warga tahu, tamu besar tidak dibiarkan datang lewat jalan yang rusak. Jalan itu sendiri menjadi tanda hormat.

Yohanes Pembaptis muncul di padang gurun dengan pesan yang persis seperti itu, tetapi untuk Tamu yang jauh lebih besar. "Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." Ia tidak menyuruh orang membangun jalan raya di pasir. Yang ia maksud adalah jalan di dalam hati.

Cara meratakannya ia sebut dengan satu kata keras: bertobat. Kita sering mengira tobat berarti merasa bersalah dan bersedih. Padahal maknanya lebih dekat pada berbalik arah. Menyingkirkan yang berlubang, meluruskan yang bengkok, membuang yang menghalangi, supaya ada jalan lapang bagi Tuhan untuk sungguh masuk.

Menariknya, Yohanes tidak berhenti pada perasaan. "Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan," katanya, bahkan kepada mereka yang bangga sebagai keturunan Abraham. Tobat yang benar kelihatan pada perbuatan, bukan pada air mata semalam.

Yesaya sudah lebih dahulu melukiskan Tamu yang dinanti itu: seorang dari tunggul Isai, yang di atas-Nya turun roh hikmat dan pengertian, yang menghakimi orang lemah dengan keadilan. Ia bukan penguasa yang datang untuk ditakuti, melainkan untuk membela yang tertindas.

Bagi tamu seperti itu, layak jika jalan disiapkan sungguh-sungguh. Paulus menambahkan satu bentuk konkret persiapan itu: "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus telah menerima kita." Jalan bagi Tuhan sering kali berupa sikap kita yang mau menerima sesama, termasuk yang selama ini kita tolak.

Ada satu hal yang mudah kita lupakan. Menyiapkan jalan bukan pekerjaan sekali jadi. Jalan yang sudah rata pun bisa kembali berlubang bila dibiarkan, apalagi bila sering dilewati hujan dan beban berat. Karena itu tobat bukan peristiwa satu malam, melainkan kebiasaan yang dirawat terus-menerus. Setiap hari ada lubang baru yang perlu ditambal, setiap hari ada belokan yang perlu diluruskan lagi. Adven mengajak kita bukan sekadar membersihkan hati sekali menjelang Natal, tetapi belajar merawat jalan itu supaya tetap terbuka bagi Tuhan sepanjang tahun.

Lubang mana di hatiku yang paling perlu kutambal menjelang Natal ini?

Tuhan, ratakan jalan di dalam hatiku. Singkirkan yang bengkok dan berlubang, supaya Engkau leluasa masuk. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →