Kamis, 6 Desember 2029
Di Atas Batu
Kemarin gunung Tuhan menjadi tempat perjamuan, meja terbuka bagi segala bangsa. Hari ini Yesaya melihat gunung yang sama sebagai kota yang kuat: "Untuk keselamatan kita Tuhan telah memasang tembok dan benteng." Rupanya rumah Allah bukan hanya tempat berpesta, tetapi juga tempat berlindung.
Setiap orang yang pernah membangun rumah tahu bahwa yang paling menentukan justru yang tak kelihatan. Bukan cat temboknya, bukan bentuk gentengnya, melainkan fondasinya. Rumah yang berdiri di tanah lembek akan retak saat musim hujan pertama tiba. Rumah di atas batu bertahan.
Yesus memakai gambaran itu persis. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu." Perhatikan, keduanya sama-sama mendengar. Yang membedakan hanya satu kata: melakukan.
Kita mudah mengira iman adalah soal berapa banyak yang kita dengar dan tahu. Padahal hujan pasti datang pada setiap hidup, entah berupa sakit, kehilangan, atau kekecewaan. Saat itulah ketahuan, sabda yang kita dengar hanya menempel di kepala, atau sudah turun menjadi perbuatan.
Mendengar itu mudah dan cepat. Melakukan itu lambat dan diam-diam, seperti menuang fondasi yang tak dilihat orang.
Sabda mana yang sudah lama kudengar, tetapi belum juga kulakukan?
Tuhan, jangan biarkan sabda-Mu berhenti di telingaku. Turunkanlah ia sampai ke tangan dan langkahku. Amin.