Rabu, 5 Desember 2029
Meja untuk Semua
Di kampung, tanda sebuah hajatan besar bukan undangannya, melainkan dapurnya. Panci-panci raksasa, tungku yang menyala sejak subuh, ibu-ibu yang bergantian mengaduk. Ada perhitungan diam-diam di balik itu: bagaimana supaya semua yang datang kebagian, dan tak ada yang pulang dengan perut kosong.
Yesaya membayangkan pesta yang jauh lebih besar. "Tuhan semesta alam akan menyediakan bagi segala bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, anggur yang tua benar." Yang mengundang adalah Allah sendiri, dan yang diundang bukan satu kampung, melainkan segala bangsa. Di meja itu maut ditiadakan dan air mata dihapus dari setiap wajah.
Gambaran itu terasa dekat ketika kita membaca Injil hari ini. Yesus melihat orang banyak yang lapar dan berkata, "Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar." Ia mengambil tujuh roti, mengucap syukur, dan membagi-baginya sampai semua kenyang. Bahkan bersisa tujuh bakul.
Perjamuan besar yang dijanjikan Yesaya itu ternyata dimulai dengan tangan yang sungguh membagi roti. Bukan hanya nanti di ujung zaman, tetapi sudah dicicipi di sini, setiap kali ada yang tergerak agar tak seorang pun pulang lapar.
Adakah orang di dekatku yang hari ini pulang dengan perut, atau hati, yang kosong?
Tuhan, Engkau menyediakan meja yang cukup untuk semua. Gerakkan tanganku untuk ikut membagi. Amin.