Kamis, 29 November 2029
Angkatlah Mukamu
Kemarin kita mendengar tulisan di dinding yang membuat raja Babel pucat dan lututnya berantukan. Hari ini Daniel sendiri yang diuji: sebuah larangan raja mengancam siapa pun yang berdoa, dan hukumannya gua singa. Apa yang dilakukan Daniel? Tidak ada yang berubah. Ia tetap berdoa tiga kali sehari, seperti biasa.
Justru di situ kekuatannya: seperti biasa. Iman Daniel tidak dibangun mendadak saat krisis datang. Ia sudah dilatih bertahun-tahun dalam kebiasaan yang tampak sepele: doa yang tetap, jendela yang terbuka ke arah Yerusalem. Maka ketika singa-singa menunggu, Daniel tidak perlu menjadi pahlawan dadakan. Ia hanya perlu tetap menjadi dirinya.
Injil hari ini melukis zaman yang gonjang-ganjing: Yerusalem dikepung, bangsa-bangsa takut dan bingung, orang mati ketakutan karena cemas akan apa yang menimpa bumi. Di tengah lukisan segelap itu Yesus menyelipkan kalimat yang mengejutkan arahnya: apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.
Dunia menunduk ketakutan; murid Kristus diminta mengangkat muka. Bukan karena keadaan tidak menakutkan, melainkan karena yang datang di ujung segala kegelapan itu adalah Penyelamat, bukan pemusnah.
Tuhan, bentuklah aku lewat kesetiaan harian seperti Daniel, supaya di hari yang paling gelap pun aku berani mengangkat muka. Amin.