Rabu, 28 November 2029
Ditimbang dan Ringan
Di pasar, timbangan adalah perkara kepercayaan. Pedagang yang menyetel timbangannya cepat kehilangan langganan. Orang bisa dibohongi sekali dua kali, tapi timbangan yang curang akhirnya ketahuan juga.
Raja Belsyazar berpesta pora dengan seribu pembesarnya, minum anggur dari perkakas suci yang dirampas ayahnya dari Bait Allah di Yerusalem, sambil memuji dewa-dewa emas dan perak. Di puncak pesta itu muncul jari-jari tangan menulis pada dinding: mene, mene, tekel ufarsin. Daniel membacanya bagi raja yang pucat pasi: masa pemerintahanmu telah dihitung dan diakhiri; engkau ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan.
Ditimbang dan terlalu ringan. Belsyazar punya segalanya: istana, pesta, seribu pembesar. Tapi di neraca Allah semua itu tidak ada beratnya. Yang membuat hidup berbobot ternyata bukan yang kita kumpulkan, melainkan siapa yang kita muliakan. Belsyazar memuji benda mati dan lupa kepada Allah yang menggenggam nafasnya.
Kemarin Yesus berbicara tentang batu-batu Bait Allah yang akan diruntuhkan. Hari ini Ia menunjukkan apa yang tersisa ketika semuanya runtuh: para murid yang dianiaya karena nama-Nya, dan menjadikannya kesempatan untuk bersaksi. Itulah hidup yang berbobot. Kalau malam ini hidupku ditimbang, apa isi neracanya?
Tuhan, Engkaulah yang menggenggam nafasku. Isilah hidupku dengan apa yang sungguh berbobot di hadapan-Mu. Amin.