Selasa, 27 November 2029
Kaki dari Tanah Liat
Kemarin mata Yesus tertuju pada seorang janda dengan dua pesernya. Hari ini mata orang banyak tertuju ke arah sebaliknya: batu-batu indah Bait Allah dan barang-barang persembahannya. Mereka sibuk mengagumi kemegahan. Yesus menanggapinya dengan kalimat yang dingin: akan datang harinya tidak ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain.
Bacaan pertama memberi gambar yang lebih tua. Nebukadnezar bermimpi tentang patung raksasa: kepala dari emas, dada dari perak, perut dari tembaga, paha dari besi. Megah dan mendahsyatkan. Tapi kakinya campuran besi dan tanah liat. Lalu sebuah batu kecil, terungkit tanpa perbuatan tangan manusia, menimpa kaki itu. Seluruh kemegahan itu remuk, menjadi seperti sekam yang dihembus angin.
Semua kerajaan dunia berkaki tanah liat. Kekuasaan, ekonomi, popularitas, bahkan bangunan ibadah yang paling megah: semuanya punya batas umur. Hanya satu yang tidak: kerajaan yang didirikan Allah sendiri, batu kecil yang menjadi gunung besar memenuhi seluruh bumi.
Maka periksalah fondasi. Di atas apa hidupku selama ini berdiri? Sebab yang berkepala emas sekalipun, kalau kakinya tanah liat, cepat atau lambat akan runtuh juga.
Tuhan, jadilah Engkau satu-satunya dasar hidupku, batu yang tidak dibuat oleh tangan manusia dan tidak akan binasa selama-lamanya. Amin.