Minggu, 25 November 2029
Raja yang Menyamar
Bayangan kita tentang raja hampir selalu sama: takhta, mahkota, pengawal, dan jarak. Rakyat kecil tidak bisa sembarangan mendekat. Orang Jawa pun lama menyimpan kerinduan akan datangnya ratu adil, raja yang memihak orang kecil. Kerinduan itu rupanya tidak salah alamat. Hanya sering salah bayangan.
Hari raya Kristus Raja menutup tahun liturgi, dan Injilnya membuka pemandangan akhir zaman: Anak Manusia bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya, semua bangsa dikumpulkan, dan Ia memisahkan mereka seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Inilah pengadilan terakhir. Dan di sinilah kejutannya.
Ternyata Raja itu selama ini menyamar. Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Orang-orang benar sendiri sampai kaget: Tuhan, bilamanakah kami pernah melihat Engkau? Jawaban-Nya menjadi salah satu kalimat terpenting dalam seluruh Injil: segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Perhatikan soal ujiannya. Tidak ada pertanyaan teori. Yang diuji enam perkara yang bisa dilakukan siapa saja tanpa gelar apa pun: memberi makan, memberi minum, menampung orang asing, memberi pakaian, melawat yang sakit, mengunjungi yang dipenjara. Pintu kerajaan-Nya ternyata dibuat setinggi orang paling sederhana.
Bacaan pertama sudah membocorkan watak Raja ini jauh sebelumnya. Lewat Yehezkiel, Allah berkata: Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku. Yang hilang Kucari, yang tersesat Kubawa pulang, yang luka Kubalut, yang sakit Kukuatkan. Raja yang turun tangan sendiri. Dan Paulus menutup dengan cakrawala paling luas: Kristus memerintah sampai semua musuh ditaklukkan, dan musuh terakhir yang dibinasakan ialah maut. Pemerintahan-Nya tidak berhenti di batas kubur.
Minggu lalu kita ditanya soal talenta yang dititipkan. Hari ini kita diberi tahu untuk apa semua titipan itu pada akhirnya: untuk mengasihi Raja yang menyamar di sekitar kita. Ia mungkin sedang antre di puskesmas, berteduh di emperan toko, atau terbaring sendirian di kamar sebelah.
Kepada siapa Raja itu menyamar dalam hidupku pekan ini?
Yesus, Raja semesta alam, bukalah mataku untuk mengenali Engkau dalam saudara-Mu yang paling hina, supaya kelak aku boleh mendengar: mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku. Amin.