Selasa, 20 November 2029
Turun dari Pohon
Kemarin kita mendengar seorang buta di pinggir jalan Yerikho berteriak minta dikasihani. Hari ini masih di kota yang sama, tapi orangnya berbeda jauh: Zakheus, kepala pemungut cukai, kaya raya. Yang satu miskin dan buta, yang lain berlimpah dan bermata terang. Namun keduanya sama dalam dua hal: sama-sama ingin berjumpa Yesus, dan sama-sama dihalangi orang banyak.
Zakheus tidak berteriak. Ia berlari mendahului lalu memanjat pohon ara. Ada yang lucu sekaligus mengharukan dari adegan itu: pejabat kaya, badan pendek, memanjat pohon seperti bocah. Rupanya kerinduan yang sungguh-sungguh selalu menemukan jalan, meski harus mengorbankan gengsi.
Dan Yesus, seperti kemarin, berhenti. Ia melihat ke atas dan memanggil nama: Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. Bukan Zakheus yang mengundang; Yesus sendiri yang meminta ditampung. Keselamatan datang dengan cara menumpang.
Hasil perjumpaan itu bukan sekadar haru. Zakheus membongkar hidupnya: setengah miliknya untuk orang miskin, dan yang pernah diperas dikembalikan empat kali lipat. Perjumpaan yang sejati selalu kelihatan bekasnya, sampai ke dompet.
Tuhan, menumpanglah di rumahku hari ini, dan rombaklah apa yang perlu Engkau rombak dalam hidupku. Amin.