Sabtu, 17 November 2029
Mengetuk Sampai Dibuka
Anak kecil yang menginginkan sesuatu tidak mengenal kata menyerah. Ditolak pagi, ia kembali siang. Ditolak siang, ia menarik-narik baju ibunya sore hari. Bukan karena kurang ajar. Karena ia percaya penuh: ibunya pasti mendengar.
Kemarin kita mendengar peringatan tentang hari Anak Manusia yang datang mendadak. Hari ini Yesus mengajarkan cara menunggunya: berdoa dengan tidak jemu-jemu. Ia bercerita tentang seorang janda yang terus-menerus mendatangi hakim yang lalim. Hakim itu akhirnya bertindak, bukan karena adil, melainkan karena capek didatangi. Lalu Yesus menarik garisnya: kalau hakim jahat saja bisa luluh oleh ketekunan, apalagi Allah yang mengasihi orang-orang pilihan-Nya siang dan malam.
Santa Elisabet dari Hungaria, putri raja yang dikenang hari ini, memilih hidup sederhana dan membagikan roti kepada orang miskin di gerbang istananya. Ketekunannya sama dengan janda itu: tidak jemu, meski ditertawakan orang istana.
Ujung Injil ini menusuk pelan: jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? Iman yang dicari-Nya rupanya sesederhana ini: orang yang masih terus mengetuk.
Tuhan, ketika jawaban-Mu terasa lambat, jagalah aku tetap mengetuk, sebab Engkau Bapa yang mendengar, bukan hakim yang lalim. Amin.