Jumat, 9 November 2029
Air dari Ambang Pintu
Hampir setiap kampung tua punya mata air. Ukurannya sering mengecewakan: hanya celah kecil di sela batu. Tapi dari celah itu mengalir air yang menghidupi sawah-sawah di bawahnya, kolam ikan, pancuran umum, dan entah berapa dapur.
Yehezkiel melihat penglihatan serupa. Dari bawah ambang pintu Bait Suci keluar air. Mula-mula kecil, makin jauh makin dalam, sampai menjadi sungai. Ke mana air itu mengalir, semuanya hidup. Bahkan laut yang asin menjadi tawar. Di tepinya tumbuh pohon-pohon yang buahnya tidak habis-habis; buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.
Hari ini Gereja merayakan pemberkatan Basilika Lateran, gereja katedral Roma, induk semua gereja. Tapi penglihatan Yehezkiel mengingatkan kita: gedung gereja tidak pernah untuk dirinya sendiri. Ia diberkati untuk mengalirkan berkat keluar. Gereja yang sehat diukur bukan dari megah gedungnya, melainkan dari hidup yang tumbuh di sekitarnya: yang lapar terbantu, yang sedih terhibur, yang asin pelan-pelan menjadi tawar.
Dan aliran itu lewat kita, orang-orang yang keluar dari pintunya setiap minggu. Pertanyaannya sederhana: sesudah ibadah, aku ini ikut mengalir atau justru membendung?
Tuhan, jadikan gereja kami mata air, dan jadikan aku salurannya, agar hidup-Mu sampai ke rumah-rumah di sekitar kami. Amin.