Rabu, 7 November 2029
Duduk Dulu, Hitung Dulu
Di pinggir jalan sering kita lihat rumah mangkrak. Fondasi jadi, tembok setinggi dada, lalu berhenti bertahun-tahun. Ditumbuhi rumput liar. Setiap orang yang lewat bisa menebak ceritanya: semangat besar di awal, dananya tidak sampai.
Yesus memakai gambaran seperti itu. Siapa mau mendirikan menara, duduk dahulu, hitung anggarannya. Raja yang mau berperang, duduk dahulu, timbang kekuatannya. Mengejutkan sebenarnya: Yesus justru meminta orang berpikir masak-masak sebelum mengikuti Dia. Padahal waktu itu banyak orang berduyun-duyun di belakang-Nya. Ia tidak mencari kerumunan yang ikut-ikutan. Ia mencari murid yang tahu harganya: memikul salib, melepaskan diri dari segala milik.
Iman yang tidak pernah dihitung biayanya mudah mangkrak. Rajin berdoa saat semuanya lancar, hilang saat diuji. Yang Yesus minta bukan semangat sesaat, melainkan kesediaan jangka panjang. Lebih baik pelan tapi sampai, daripada gegap gempita lalu berhenti setinggi dada.
Hari ini baiklah kita duduk sebentar. Menghitung dengan jujur: apa yang selama ini belum rela kulepaskan untuk mengikuti Dia?
Tuhan, aku ingin mengikuti-Mu bukan dengan semangat sesaat, tetapi sampai selesai. Kuatkanlah aku memikul salibku hari ini. Amin.