Minggu, 28 Oktober 2029
Jubah yang Dikembalikan Sebelum Senja
Setiap kampung punya kisah tentang pendatang. Perantau baru biasanya kelihatan dari caranya berdiri di warung: canggung, membeli seperlunya, menunggu disapa. Satu sapaan hangat bisa mengubah statusnya dari orang asing menjadi tetangga. Satu sikap dingin bisa membuatnya bertahun-tahun merasa bukan siapa-siapa.
Hukum Taurat dalam bacaan pertama berpihak dengan sangat jelas kepada orang seperti itu: "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir." Alasannya bukan teori, melainkan ingatan. Kalian tahu rasanya. Lalu hukum itu turun ke rincian yang mengharukan: janda dan yatim jangan ditindas; pinjaman bagi orang miskin jangan dibungakan; dan jika jubah temanmu kauambil sebagai gadai, kembalikanlah sebelum matahari terbenam. Mengapa harus sebelum senja? Sebab jubah itu satu-satunya selimutnya. Allah, rupanya, memikirkan sampai ke urusan dinginnya malam seorang miskin.
Dengan latar itu, jawaban Yesus dalam Injil menjadi lebih hidup. Ditanya hukum mana yang terutama, Ia menjawab dua sekaligus: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dua hukum itu seperti dua ujung satu tarikan napas. Kasih kepada Allah yang tidak kelihatan diuji kebenarannya pada sesama yang kelihatan; dan kasih kepada sesama menemukan sumbernya pada Allah, supaya tidak lekas habis.
Maka jangan buru-buru merasa lulus. Mengasihi Allah memang mudah dinyanyikan. Ujian sesungguhnya ada di daftar bacaan pertama tadi, kalau ditulis dengan bahasa sekarang: bagaimana kita memperlakukan asisten rumah tangga, buruh harian, penjual keliling yang menawarkan rezeki di depan pagar, pendatang beda suku dan beda agama di lingkungan kita, keluarga yang terjerat utang. Kasih yang sejati selalu punya alamat dan tenggat: sebelum matahari terbenam.
Jemaat Tesalonika dalam bacaan kedua dipuji Paulus karena imannya bergema ke mana-mana tanpa mereka perlu mengatakan apa-apa. Iman memang paling nyaring justru ketika tidak sedang berbicara: terdengar lewat cara sebuah rumah menerima orang asing, lewat cara sebuah keluarga memperlakukan yang lemah.
Minggu ini, siapa "orang asing" yang Allah letakkan paling dekat dengan kita? Dan jubah siapa yang masih tertahan di tangan kita, padahal senja hampir tiba?
Tuhan, Engkau mengasihi kami ketika kami masih orang asing. Ajarilah kami mengasihi dengan alamat yang jelas dan tanpa menunda. Amin.