Sabtu, 27 Oktober 2029
Setahun Lagi
Di halaman rumah ada pohon mangga yang bertahun-tahun tidak berbuah. Ayah sudah mengangkat golok: tebang saja, hanya menyempitkan halaman. Kakek menahannya: "Sabar. Beri pupuk dulu. Lihat tahun depan." Pohon itu selamat oleh satu suara yang mau memberi waktu.
Persis adegan itu yang Yesus ceritakan hari ini. Pemilik kebun sudah tiga tahun mencari buah pada pohon ara dan tidak menemukannya. Tebanglah! Tetapi pengurus kebun menawar: "Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi; aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya." Setahun lagi. Bukan pembiaran tanpa batas, melainkan kesabaran yang bekerja: mencangkul, memupuk, menanti.
Kemarin kita ditegur karena pandai membaca langit tetapi lambat membaca zaman. Hari ini kita diberi tahu untuk apa waktu yang tersisa: bertobat. Dua kali Yesus mengulanginya. Musibah orang lain bukan bahan hitung-hitungan dosa mereka, melainkan lonceng bagi kita yang masih diberi waktu.
Paulus menyebut sumber tenaganya: Roh Allah yang diam di dalam kita, Roh yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Pupuknya sudah tersedia. Tahun tambahan sedang berjalan. Buah apa yang akan Ia temukan pada kita di musim berikutnya?
Tuhan, terima kasih untuk setahun lagi. Cangkullah tanah hatiku dan buatlah aku berbuah. Amin.