Jumat, 26 Oktober 2029
Pandai Membaca Langit
Orang kampung jarang salah membaca langit. Awan menggantung di barat: sebentar lagi hujan, angkat jemuran. Angin kering dari selatan: siang akan panas terik. Tanpa aplikasi cuaca pun mereka jarang keliru, sebab langit dibaca setiap hari selama puluhan tahun.
Kemarin Yesus berbicara tentang api yang dilemparkan ke bumi. Hari ini Ia menoleh kepada orang banyak dan mengakui keahlian mereka, lalu memakai kalimat yang menampar: "Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" Teliti pada cuaca, buta pada kehadiran Allah yang sedang berdiri di depan mata. Pintar membaca tanda hujan, gagal membaca waktu untuk bertobat dan berdamai "selama di tengah jalan".
Paulus dalam bacaan pertama jujur tentang sebabnya: bukan soal kecerdasan, melainkan perang di dalam diri. "Bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat." Kita menunda menilai zaman karena menilai zaman berarti menilai diri sendiri.
Yohanes Paulus II dikenang justru karena keberaniannya membaca zamannya: ia menyerukan pertobatan di tengah dunia yang terbelah dan tidak menunggu keadaan aman untuk bersuara. Hari ini, tanda apa yang sudah lama Allah pasang di langit hidup kita dan pura-pura tidak kita lihat?
Tuhan, berilah aku mata yang membaca kehadiran-Mu secepat aku membaca awan hujan. Amin.