Selasa, 23 Oktober 2029
Lampu Teras
Di banyak rumah ada kebiasaan kecil yang diam-diam penuh kasih: lampu teras dibiarkan menyala selama masih ada anggota keluarga yang belum pulang. Yang di rumah mungkin sudah mengantuk, tetapi lampu itu berbicara mewakili mereka: kamu ditunggu.
Yesus meminta murid-murid-Nya hidup seperti lampu teras itu: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala," seperti hamba yang menanti tuannya pulang dari perkawinan, entah tengah malam entah dini hari. Berjaga bukan berarti tegang ketakutan. Berjaga berarti tetap rindu, tetap siap membukakan pintu.
Lalu datang kejutan yang hanya mungkin dalam Injil: tuan yang mendapati hambanya berjaga justru akan mengikat pinggangnya sendiri, mempersilakan mereka duduk makan, dan datang melayani mereka. Tuan macam apa yang berbuat begitu? Hanya satu: Tuhan yang pernah membasuh kaki murid-murid-Nya.
Paulus menuliskan alasannya: jika oleh satu orang dosa dan maut berkuasa, jauh lebih besar lagi kasih karunia yang dilimpahkan dalam Yesus Kristus. Kita menunggu Dia bukan seperti terdakwa menunggu hakim, melainkan seperti keluarga menunggu orang tercinta pulang. Malam ini, masihkah lampu teras hati kita menyala untuk-Nya?
Tuhan, jagalah pelitaku tetap menyala sampai Engkau mengetuk pintu. Amin.