Sabtu, 20 Oktober 2029
Menanam di Musim Kering
Setiap tahun ada petani yang menanam di ujung kemarau. Tanah masih retak, langit masih pelit. Ditanya kenapa berani, jawabnya pendek: "Hujan pasti datang." Ia tidak memegang ramalan; ia memegang kebiasaan langit yang ia percayai seumur hidup.
Kemarin kita mendengar Abraham dibenarkan karena iman. Hari ini Paulus menunjukkan seperti apa iman itu bekerja: "Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya." Umurnya hampir seratus tahun, Sara mandul, dan janji itu berbunyi: engkau akan menjadi bapa banyak bangsa. Abraham menanam di musim kering yang paling kering.
Percaya semacam itu bukan menutup mata terhadap kenyataan. Abraham tahu persis tubuhnya sudah tua. Iman bukan pura-pura tidak ada masalah; iman adalah memandang masalah sambil memandang Allah "yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada".
Dalam Injil, Yesus menjanjikan Roh Kudus akan memberi kata-kata pada saat kita diperhadapkan dan gentar. Lagi-lagi pola yang sama: jaminannya bukan keadaan yang mudah, melainkan Allah yang hadir. Harapan apa yang sedang kita kubur karena musim hidup terasa terlalu kering untuk menanam?
Allah Abraham, ajarilah aku menanam harapan justru ketika langit belum menurunkan hujan. Amin.