Senin, 24 September 2029
Urip Iku Urup
Orang Jawa punya pepatah pendek: urip iku urup. Hidup itu menyala. Hidup yang sejati selalu menerangi sekitarnya, seperti nyala yang menghangatkan siapa pun di dekatnya.
Yesus memakai gambar yang sama: tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menaruhnya di bawah tempat tidur. Aneh bukan? Pelita dinyalakan memang untuk ditaruh di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk melihat cahayanya. Iman yang disimpan rapat-rapat untuk diri sendiri mengkhianati kodratnya sendiri.
Bacaan pertama memperlihatkan nyala yang menjalar. Allah menggerakkan hati Koresh, raja Persia, dan orang-orang buangan pun berkemas pulang membangun rumah Tuhan. Yang berangkat disokong oleh yang tinggal. Satu gerakan hati menyalakan banyak tangan.
Para martir Korea yang dikenang hari ini, Santo Andreas Kim dan kawan-kawannya, membiarkan pelita itu tetap terbuka meski angin penganiayaan kencang. Iman di Korea mula-mula justru dibawa pulang oleh kaum awam, dari rumah ke rumah, dan nyala itu tidak padam sampai sekarang.
Karena itu, kata Yesus, perhatikanlah cara kamu mendengar. Firman yang didengar lalu dibagikan akan bertambah; yang ditimbun akan hilang.
Di mana pelita kita sekarang: di atas kaki dian, atau di bawah tempayan rasa takut?
Tuhan, nyalakanlah aku, dan jangan biarkan aku menutupi cahaya-Mu. Amin.