Minggu, 23 September 2029
Sedinar untuk Semua
Bayangkan kita ikut bekerja di kebun anggur itu sejak subuh. Dua belas jam menanggung panas terik. Lalu orang yang masuk pukul lima sore menerima upah yang sama: satu dinar. Jujur saja, kita pasti ikut bersungut-sungut. Perumpamaan ini memang dirancang untuk membuat kita tersinggung.
Tetapi mari periksa lagi. Tuan itu curang? Tidak. Ia membayar tepat sesuai kesepakatan: sedinar sehari. Yang membuat panas bukan kekurangan, melainkan perbandingan. Para pekerja pertama tidak dirugikan sedikit pun; mereka hanya tidak tahan melihat orang lain menerima kebaikan. Kata tuan itu tajam: 'Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?'
Ada rahasia kecil di balik satu dinar. Itu upah standar untuk hidup sehari: cukup untuk makan sekeluarga sampai besok. Tuan itu tahu, pekerja pukul lima sore pun punya anak yang harus makan malam itu. Ia tidak membayar menurut jam kerja; ia memberi menurut kebutuhan hidup. Dunia menghitung jasa. Allah menghitung kebutuhan. Dua cara hitung yang sungguh berbeda.
Yesaya sudah mengingatkan jarak itu: 'Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.' Kalau cara Allah persis cara kita, celakalah pendosa yang bertobat di ujung hidupnya. Justru karena rancangan-Nya lain, masih ada tempat bagi penjahat yang bertobat di kayu salib, dan bagi kita yang dalam banyak hal sering datang terlambat.
Paulus dari dalam penjara memperlihatkan buah dari cara hitung langit itu. Baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Orang yang sudah berhenti membandingkan diri dengan orang lain memang merdeka: hidup dipakainya untuk berbuah, mati pun tidak menakutkannya.
Mungkin inilah pertobatan yang paling jarang kita sadari perlunya: bertobat dari hobi membandingkan. Berkat orang lain bukan potongan dari jatah kita. Kebaikan Allah bukan kue yang habis kalau dibagi.
Hari ini, ketika melihat orang lain menerima yang tidak kita terima, maukah kita berkata: syukurlah, Tuannya murah hati?
Tuhan, sembuhkanlah aku dari iri hati, dan ajarilah aku bersukacita atas kemurahan-Mu bagi siapa saja. Amin.