Selasa, 18 September 2029
Obat yang Tidak Kita Minta
Coba dengarkan keluhan bangsa Israel di padang gurun: 'Di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.' Kalimat kedua membatalkan kalimat pertama. Katanya tidak ada roti, tetapi muak dengan makanan. Ternyata ada, hanya bosan. Manna turun setiap pagi, dan keajaiban yang datang tiap hari akhirnya dianggap hambar.
Bukankah kita mengenal keluhan macam itu? Sehat tiap hari terasa biasa, sampai jatuh sakit. Pasangan yang setia terasa hambar, sampai kehilangan. Kebosanan membuat kita menghitung yang tidak ada dan melupakan yang ada.
Lalu datanglah ular-ular itu, dan bangsa itu bertobat. Menariknya, Allah tidak menjawab doa mereka persis seperti permintaannya. Mereka minta ular dijauhkan; Allah tidak menjauhkannya. Ia memberi cara untuk tetap hidup di tengah ular: memandang ular tembaga yang ditinggikan. Obatnya bukan hilangnya masalah, melainkan arah pandang yang baru.
Yesus berkata, seperti itulah Anak Manusia harus ditinggikan. Salib tidak menghapus kesulitan dari hidup kita. Tetapi siapa memandang Dia yang tersalib, sanggup melintasi kesulitan itu tanpa binasa.
Hari ini, kita sibuk menuntut masalah lenyap, atau mulai belajar memandang ke arah yang benar?
Tuhan, bila ular tidak Kauambil, angkatlah mataku kepada salib-Mu, sumber hidupku. Amin.