Rabu, 19 September 2029
Seruling dan Kidung Duka
Ada orang yang tidak bisa dipuaskan. Diajak serius, katanya kaku. Diajak santai, katanya tidak sopan. Apa pun lagunya, ia menolak menari; apa pun beritanya, ia selalu menemukan celanya.
Yesus menggambarkan angkatan seperti itu dengan anak-anak di pasar: 'Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.' Yohanes datang berpuasa, dibilang kerasukan setan. Anak Manusia datang makan dan minum, dibilang pelahap dan peminum. Kalau hati sudah menutup diri, bukti sebanyak apa pun akan selalu kurang. Penolakan sering bukan soal kurang alasan, melainkan soal tidak mau.
Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Menerima: itu kuncinya.
Hari ini kita mengenang Santa Perawan Maria Berdukacita. Maria menerima seruling dan kidung duka sekaligus: sukacita Kabar Gembira dan pedang yang menembus jiwanya. Ia tidak memilih-milih bagian yang enak saja dari rencana Allah. Ia menyimpan semuanya dalam hati.
Jangan-jangan kita sedang menjadi penonton yang tidak bisa dipuaskan: menuntut Tuhan tampil sesuai selera, lalu kecewa terus-menerus. Musik mana dari Tuhan yang selama ini enggan kita ikuti iramanya?
Tuhan, berilah aku hati Maria, yang menerima seruling maupun kidung duka dari tangan-Mu. Amin.