Senin, 10 September 2029
Berdiri di Tengah
Ada dua cara memandang orang: mencari yang bisa ditolong, atau mencari yang bisa disalahkan. Di rumah ibadat itu keduanya hadir. Yesus melihat seorang yang mati tangan kanannya. Para ahli Taurat melihat kesempatan: kalau-kalau Ia menyembuhkan pada hari Sabat, supaya ada alasan mempersalahkan Dia.
Mata yang sama, arah yang berlawanan. Orang sakit itu bagi mereka bukan manusia, melainkan umpan perkara.
Lalu Yesus melakukan sesuatu yang berani: 'Bangunlah dan berdirilah di tengah!' Orang yang biasa menyembunyikan tangannya yang layu justru ditaruh di pusat perhatian. Yesus tidak menyembuhkan diam-diam di pojok. Ia mau semua orang melihat bahwa belas kasihan bukan pelanggaran, melainkan inti hukum itu sendiri. Pertanyaan-Nya sederhana dan menusuk: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat?
Tidak ada yang menjawab. Aturan yang kehilangan belas kasihan memang selalu kehabisan kata di hadapan penderitaan yang nyata.
Paulus bergumul agar jemaat Kolose mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus. Rahasia itu hari ini terbuka sedikit: Allah yang menaruh manusia di atas segala alasan.
Hari ini, mata kita sedang mencari apa: yang bisa ditolong, atau yang bisa disalahkan?
Tuhan, berilah aku mata-Mu, yang melihat orang sebelum melihat aturan. Amin.