Kamis, 6 September 2029
Sekali Lagi, Jala Itu
Ada lelah yang paling berat bagi pekerja: lelah tanpa hasil. Petani yang panennya gagal, pedagang yang dagangannya tak laku, pelamar yang lamarannya tak berbalas. Simon mengalaminya: sepanjang malam menebar jala, dan perahu tetap kosong.
Kemarin kita mendengar Yesus meninggalkan Kapernaum untuk memberitakan Injil ke kota-kota lain. Hari ini Ia tiba di pantai Genesaret, meminjam perahu Simon untuk mengajar, lalu menyuruh hal yang bagi nelayan terdengar keliru: bertolak ke tempat dalam pada siang hari, waktu paling buruk untuk menjala. Simon boleh saja protes; ia lebih paham danau itu daripada tukang kayu dari Nazaret. Tetapi ia memilih satu kalimat yang mengubah hidupnya: 'Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.'
Bukankah kita sering berhenti tepat sebelum kalimat itu? Kita sudah mencoba, gagal, lalu menutup buku. Padahal iman kadang hanya berarti satu hal sederhana: mengulang usaha yang sama, kali ini karena Dia yang menyuruh.
Jala yang semalaman kosong itu akhirnya koyak karena terlalu penuh. Dan Simon yang tersungkur ketakutan justru diberi tugas baru: menjala manusia.
Usaha apa yang sudah kita nyatakan gagal, padahal Tuhan belum selesai dengannya?
Tuhan, ajarilah aku menebarkan jala sekali lagi, bukan karena yakin hasilnya, melainkan karena percaya pada-Mu. Amin.