Senin, 3 September 2029
Anaknya Si Anu
Ada kebiasaan aneh di banyak kampung. Kalau ada anak kampung yang berhasil, pujian di luar bisa selangit, tetapi di kampungnya sendiri komentarnya pendek: 'Ah, itu kan anaknya si Anu.' Kita merasa paling tahu justru karena merasa paling kenal.
Itulah yang terjadi di Nazaret. Yesus membaca nubuat Yesaya lalu berkata: 'Pada hari ini genaplah nas ini.' Mula-mula semua kagum. Tetapi segera muncul kalimat itu: 'Bukankah Ia ini anak Yusuf?' Kekaguman berubah menjadi amarah, sampai mereka mau melemparkan Dia dari tebing. Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Rasa kenal ternyata bisa menjadi tembok. Kita menyimpan gambar lama tentang seseorang dan menolak kemungkinan Allah bekerja lewat dia. Berapa kali rahmat lewat di depan kita dengan wajah yang terlalu biasa: pasangan, tetangga, rekan kerja?
Santo Gregorius Agung, paus yang kita kenang hari ini, memilih gelar yang merendah: servus servorum Dei, hamba para hamba Allah. Ia tahu, kebesaran sejati justru suka datang lewat yang tampak biasa.
Hari ini, siapa orang biasa di dekat kita yang mungkin sedang membawa suara Tuhan?
Tuhan, sembuhkanlah mataku dari rasa terlalu kenal, agar aku mengenali-Mu dalam wajah-wajah biasa. Amin.