Minggu, 2 September 2029
Bara di Bawah Abu
Orang dapur tahu rahasia ini: bara arang yang ditutup abu tidak mati. Ia tampak padam. Tetapi sentuh sedikit, tiup sedikit, apinya menyala lagi. Panasnya menunggu, bukan menghilang.
Yeremia mengalami hal serupa di dalam dirinya. Ia sudah kapok menjadi nabi. Berbicara demi Tuhan hanya mendatangkan ejekan, sepanjang hari pula. Maka ia memutuskan berhenti: 'Aku tidak mau mengingat Dia lagi.' Tetapi apa yang terjadi? Dalam hatinya ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang. Ia berlelah-lelah menahannya dan tidak sanggup. Firman itu bara di bawah abu.
Minggu lalu kita mendengar Petrus di puncak: ia disebut batu karang setelah mengakui Yesus sebagai Mesias. Hari ini, hanya beberapa ayat kemudian, batu karang itu menjadi batu sandungan. Salahnya apa? Ia ingin Yesus aman. 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!' Bukankah itu ucapan sayang? Justru di situ persoalannya. Petrus memikirkan apa yang dipikirkan manusia: keselamatan berarti terhindar dari salib. Yesus memikirkan apa yang dipikirkan Allah: keselamatan justru melewati salib.
Kita mudah menjadi Petrus. Kita ingin iman yang hangat tapi tidak membakar. Rajin berdoa, asal tidak diminta berkorban. Ikut Yesus, asal jalannya datar. Iman semacam itu seperti bara yang sengaja kita timbun abu tebal-tebal supaya tidak menyulut apa-apa.
Paulus menawarkan arah sebaliknya: persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. Bukan lilin yang disimpan, melainkan lilin yang dinyalakan. Jangan serupa dengan dunia ini, katanya, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Dunia menilai untung rugi; murid menilai kehendak Allah.
Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa? Pertanyaan Yesus itu tidak butuh gelar teologi untuk dipahami. Setiap orang yang pernah mengorbankan keluarga demi karier, atau menjual kejujuran demi jabatan, tahu persis rasanya.
Hari ini baiklah kita periksa tungku hati kita. Masih adakah baranya? Mungkin lama kita timbun dengan kesibukan, dengan kecewa, dengan alasan aman. Kabar baiknya: bara itu tidak mati. Ia hanya menunggu ditiup. Dan Roh, dalam bahasa Kitab Suci, memang berarti napas.
Tuhan, tiuplah abu yang menutupi hatiku, sampai firman-Mu kembali menyala dan aku tak sanggup menahannya. Amin.