‹ Semua renungan

Jumat, 31 Agustus 2029

Cadangan Minyak

Ketika listrik tiba-tiba padam di malam hari, barulah ketahuan siapa yang siap. Ada rumah yang gelap gulita, sibuk mencari-cari sambil menabrak kursi. Ada rumah yang tenang, karena sejak lama menyimpan lilin dan minyak cadangan. Bedanya bukan pada saat lampu mati itu, melainkan pada apa yang disiapkan jauh sebelumnya.

Perumpamaan hari ini bermain di ruang itu. Sepuluh gadis menanti mempelai. Semua membawa pelita. Tetapi lima yang bijaksana membawa minyak cadangan, dan lima yang bodoh tidak. Ketika mempelai lama datang dan semua tertidur, tengah malam terdengar seruan, 'Mempelai datang!' Saat itulah baru ketahuan siapa yang punya minyak.

Yang menyentuh adalah jawaban gadis-gadis bijaksana ketika dimintai minyak, 'Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.' Bukan pelit, melainkan karena ada hal yang memang tak bisa dipinjamkan di menit terakhir. Iman yang dihidupi bertahun-tahun tak bisa mendadak ditransfer saat pintu hampir tertutup. Doa, kesetiaan, hati yang dibiasakan dekat dengan Tuhan, semua itu minyak yang harus dikumpulkan sendiri, sedikit demi sedikit.

Kita sering menunda mengisi minyak, mengira masih banyak waktu. Padahal yang menentukan bukan kesibukan di malam kedatangan, melainkan kebiasaan kecil yang kita rawat setiap hari.

Sudahkah aku mengisi cadangan minyak imanku hari ini, atau masih menundanya sampai nanti?

Tuhan, jangan biarkan aku menunda sampai pintu hampir tertutup. Ajarilah aku mengisi minyak iman sedikit demi sedikit setiap hari, supaya pelitaku tetap menyala ketika Engkau datang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →