Kamis, 30 Agustus 2029
Yang Berjaga Malam
Di kampung yang masih menjalankan ronda, ada pelajaran sederhana tentang kesetiaan. Pos ronda paling sepi justru pada dini hari, saat semua tertidur dan tak seorang pun tahu apakah petugasnya benar-benar terjaga. Mudah sekali ketiduran. Toh tak ada yang mengawasi. Tetapi maling pun tahu, ia datang justru di jam yang tak disangka.
Injil hari ini berbicara persis di jam itu. 'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.' Lalu Yesus melukis dua macam hamba. Yang setia, terus mengurus tugasnya, membagikan makanan kepada sesama hamba pada waktunya. Dan yang jahat, yang berkata di dalam hatinya, 'Tuanku tidak datang-datang,' lalu mulai memukul hamba lain dan berpesta.
Perhatikan, yang membedakan keduanya bukan pengetahuan, melainkan anggapan. Hamba yang jahat bukan tidak tahu tuannya akan pulang. Ia hanya berasumsi masih lama. Dari asumsi masih lama itulah kelakuannya berubah. Ia santai menunda, kasar kepada sesama, karena merasa belum akan dimintai pertanggungjawaban.
Kita pun sering hidup dengan asumsi masih lama. Masih lama untuk berdamai, masih lama untuk berubah, masih lama untuk sungguh mengasihi. Padahal berjaga bukan soal takut pada kedatangan Tuhan, melainkan soal setia mengurus tugas seakan Ia bisa pulang kapan saja.
Kalau Tuhan pulang di jam yang paling tak kusangka hari ini, sedang mengerjakan apa Ia akan mendapati aku?
Tuhan, jagalah aku dari asumsi masih lama yang membuatku lengah dan kasar. Dapatilah aku setia mengurus tugas dan mengasihi sesama, kapan pun Engkau datang. Amin.