Rabu, 29 Agustus 2029
Dilabur Putih
Setiap kali ada acara besar, tembok-tembok kusam mendadak dicat. Pagar dipoles, rumput dirapikan, yang jelek ditutupi. Dari luar semua tampak bersih. Kita paham betul seni memoles permukaan supaya tak ada yang menebak apa yang tersembunyi di baliknya.
Yesus memakai gambaran serupa untuk menegur kemunafikan. 'Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya bersih tampaknya, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang.' Di zaman itu kuburan memang dikapur putih supaya orang tidak menyentuhnya tanpa sengaja. Bersih di luar, justru untuk menandai kematian di dalam.
Lebih tajam lagi, Yesus menyindir mereka yang membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang saleh, sambil berkata, 'Kalau kami hidup di zaman nenek moyang, tentu kami tidak ikut membunuh nabi.' Padahal mereka sedang bersiap menolak nabi yang hidup di depan mata mereka.
Hari ini kita mengenang kemartiran Santo Yohanes Pembaptis. Herodes sebenarnya kagum kepadanya, bahkan senang mendengarkannya. Tetapi demi harga diri di depan tamu dan sebuah sumpah gegabah, ia memenggal nabi yang ia hormati. Menghormati dari luar, membunuh dari dalam.
Gampang bagi kita mengagumi orang kudus yang sudah wafat sambil menolak suara kebenaran yang mengganggu kita hari ini.
Adakah bagian dalam diriku yang kubiarkan busuk, sementara sibuk mengecat yang tampak dari luar?
Tuhan, Engkau melihat yang tak tertutup cat. Bersihkan aku bukan hanya di permukaan, melainkan sampai ke dalam. Dan beri aku keberanian mendengar kebenaran yang hidup, bukan sekadar menghormati yang sudah aman kukenang. Amin.