Selasa, 28 Agustus 2029
Hati yang Gelisah
Ada kegelisahan yang tidak sembuh oleh apa pun. Kita berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, dari satu hiburan ke hiburan berikutnya, membeli, mencoba, mengejar. Sebentar puas, lalu kosong lagi. Seolah ada lubang di dalam yang tak bisa ditambal oleh apa pun yang kita masukkan ke dalamnya.
Santo Agustinus, yang kita kenang hari ini, mengenal kegelisahan itu lebih dalam daripada kebanyakan orang. Masa mudanya ia habiskan mengejar ilmu, kenikmatan, dan pengakuan. Ia pandai, terkenal, tetapi tak pernah tenang. Sampai akhirnya, dalam pertobatannya, ia menulis kalimat yang abadi: 'Engkau telah menjadikan kami bagi diri-Mu, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.'
Injil hari ini memperlihatkan awal dari istirahat itu, dalam diri Natanael. Sebelum ia mencari, ternyata ia sudah lebih dulu dilihat. 'Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.' Kita mengira imanlah pencarian kita akan Tuhan. Padahal sering yang terjadi kebalikannya: Tuhan sudah lebih dulu melihat, sudah lebih dulu menanti kita pulang.
Kegelisahan Agustinus, pada akhirnya, bukan tanda ia jauh dari Tuhan, melainkan tanda ia diciptakan untuk Tuhan. Rasa tak pernah cukup itu justru kompas yang menunjuk ke rumah.
Kegelisahan apa dalam hidupku yang sebenarnya sedang menunjuk jalan pulang kepada-Nya?
Tuhan, Engkau menciptakan aku bagi diri-Mu, dan hatiku takkan tenang sampai beristirahat dalam Engkau. Di tengah segala pencarianku, ingatkan aku bahwa Engkau sudah lebih dulu melihat dan menanti aku. Amin.