Minggu, 26 Agustus 2029
Dititipi Kunci
Menyerahkan kunci rumah kepada seseorang adalah bentuk kepercayaan yang tinggi. Kita hanya memberikan kunci kepada orang yang kita yakini tidak akan menyalahgunakannya. Kunci berarti akses, dan akses berarti kuasa untuk membuka atau menutup, untuk masuk kapan saja. Menitipkan kunci berarti berkata, aku mempercayaimu.
Bacaan pertama berbicara tentang kunci yang berpindah tangan. Seorang pejabat bernama Sebna dicopot, dan jabatannya diberikan kepada Elyakim. 'Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.' Kunci di bahu, bukan di saku. Sebuah tanggung jawab yang dipikul, bukan sekadar disimpan.
Injil hari ini memakai gambar yang sama, tetapi jauh lebih besar. Yesus bertanya kepada murid-murid, 'Menurut kamu, siapakah Aku ini?' Petrus menjawab, 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.' Dan Yesus berkata, 'Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.'
Perhatikan urutannya. Kunci diberikan sesudah pengakuan iman, bukan sesudah unjuk kehebatan. Petrus bukan yang paling pandai atau paling kuat. Beberapa ayat kemudian ia bahkan ditegur keras, 'Enyahlah, Iblis.' Kunci itu jelas bukan hadiah atas kesempurnaan, melainkan kepercayaan yang diberikan kepada orang yang mengenali siapa Yesus.
Kita pun dititipi kunci, masing-masing dengan ukurannya. Orang tua dititipi kunci hati anak-anaknya. Guru dititipi kunci masa depan muridnya. Pemimpin dititipi kunci nasib banyak orang. Bahkan sepatah kata yang kita ucapkan bisa membuka atau menutup pintu bagi orang lain, pintu pengharapan atau pintu putus asa. Setiap hari, tanpa selalu sadar, tangan kita memegang kunci atas hidup seseorang. Dan kunci selalu punya dua arah: yang sama bisa dipakai membuka, bisa juga dipakai mengunci.
Bacaan kedua mengingatkan, di hadapan segala kuasa yang dititipkan itu, kita tetap kecil. 'Alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.' Kunci yang kita pegang bukan milik kita. Kita hanya penjaga sementara, yang kelak diminta pertanggungjawaban, sudahkah kita membuka pintu bagi orang, atau malah menguncinya rapat-rapat demi kenyamanan sendiri.
Kunci apa yang Tuhan titipkan padaku sekarang, dan sudahkah kupakai untuk membuka, bukan mengunci?
Tuhan, Engkau memercayakan kunci ke tangan-tangan yang tak sempurna, termasuk tanganku. Jadikan aku penjaga yang setia, yang memakai setiap kepercayaan untuk membuka pintu keselamatan bagi sesama, bukan menutupnya. Dan ingatkan aku, semua kunci ini tetap milik-Mu. Amin.