Sabtu, 25 Agustus 2029
Memungut Sisa
Dulu, seusai panen, orang-orang tak berpunya boleh masuk ke sawah memungut bulir-bulir yang tercecer. Di beberapa daerah kebiasaan itu punya nama sendiri; dalam bahasa Jawa disebut ngasak. Petani sengaja tidak menghabiskan semua, membiarkan sisa di pinggir, supaya janda, yatim, dan orang miskin bisa ikut makan. Hukum Taurat memang memerintahkannya.
Rut, perempuan Moab yang menjanda, hidup dari kemurahan itu. Ia memungut jelai di ladang, dan kebetulan sampai di tanah milik Boas. Ia orang asing, mertuanya miskin, tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Tetapi ia bekerja tekun dan setia kepada Naomi, mertuanya.
Boas memperhatikan dia. Bukan karena Rut menuntut, melainkan karena kesetiaannya terdengar. 'Telah dikabarkan kepadaku segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati.' Dari ladang sisa itu, kisah bergulir sampai Rut menjadi istri Boas, lalu melahirkan Obed, kakek Daud. Perempuan asing yang memungut sisa, masuk ke dalam silsilah Sang Mesias.
Tuhan gemar bekerja lewat yang tercecer, yang dianggap remah. Yang di mata orang hanya sisa panen, di tangan Tuhan bisa menjadi awal sebuah garis keturunan agung.
Adakah aku memandang rendah sisa-sisa dalam hidupku, padahal Tuhan justru sering memulai dari sana?
Tuhan, terima kasih Engkau tidak menghitung kami dari besarnya milik kami. Seperti Rut, ajar aku setia dalam hal kecil, dan percaya bahwa dari yang tercecer pun Engkau sanggup menumbuhkan rencana besar. Amin.