Jumat, 24 Agustus 2029
Mana Mungkin dari Nazaret
Kita punya prasangka yang jarang diakui. Terhadap orang dari kampung tertentu, suku tertentu, sekolah tertentu. Begitu tahu asal seseorang, kita sudah menyimpulkan seperti apa dia, sebelum ia sempat membuka mulut. Prasangka menghemat waktu berpikir, tetapi sering menutup pintu perjumpaan.
Natanael, yang hari ini kita kenang sebagai Rasul Bartolomeus, pun begitu. Ketika Filipus berkata telah menemukan Mesias, Yesus dari Nazaret, jawaban Natanael ketus: 'Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?' Nazaret kota kecil tak diperhitungkan. Bagi Natanael, alamat itu sudah cukup untuk menutup perkara.
Filipus tidak berdebat. Ia hanya menjawab dengan empat kata, 'Mari dan lihatlah.' Prasangka tidak dikalahkan dengan bantahan, melainkan dengan perjumpaan. Datang, lihat sendiri, baru menilai.
Dan perjumpaan itu mengejutkan Natanael. Yesus menyapanya, 'Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.' Bahkan Yesus mengaku telah melihatnya 'di bawah pohon ara' sebelum ia dipanggil. Orang yang tadi meremehkan, kini merasa dikenal sampai ke dalam. Dari mulut yang tadi sinis keluar pengakuan, 'Rabi, Engkau Anak Allah.'
Betapa banyak orang baik yang kita lewatkan hanya karena kita sudah menilai dari alamatnya. Betapa banyak karya Tuhan yang kita tolak karena datang dari arah yang tak kita sangka.
Siapa yang selama ini kututup pintunya hanya karena asal-usulnya, dan beranikah aku berkata pada diriku, mari dan lihatlah?
Tuhan, bongkarlah prasangka yang menutup mataku terhadap sesama. Beri aku keberanian datang dan melihat, supaya aku tidak melewatkan karya-Mu yang datang dari tempat tak kusangka. Amin.