Kamis, 23 Agustus 2029
Nazar yang Terlanjur
Banyak dari kita pernah menawar kepada Tuhan. Kalau aku lulus ujian ini, aku akan begini. Kalau anakku sembuh, aku janji begitu. Kalau usahaku berhasil, akan kupersembahkan sekian. Doa berubah menjadi tawar-menawar, seolah Tuhan bisa dibujuk dengan janji yang cukup besar.
Yefta melakukan tepat itu, dan kisahnya berakhir tragis. Sebelum berperang, ia bernazar: jika menang, apa pun yang pertama keluar dari pintu rumahnya untuk menyongsong dia, akan ia persembahkan sebagai korban bakaran. Ia menang. Tetapi yang pertama keluar menyambutnya, dengan rebana dan tarian, adalah anak perempuannya satu-satunya.
Kitab Suci mencatat kepedihan itu tanpa memujinya. Nazar Yefta bukan teladan iman, melainkan peringatan. Ia memperlakukan Tuhan seperti pihak yang harus disuap agar menolong, dan janji gegabahnya menghancurkan orang yang paling ia kasihi.
Tuhan tidak pernah meminta kita membeli pertolongan-Nya. Ia memberi karena kasih, bukan karena tawaran kita cukup menggiurkan. Iman yang sehat tidak berkata, 'Kalau Engkau menolong, aku akan.' Iman berkata, 'Entah Engkau menolong seperti yang kuminta atau tidak, aku tetap milik-Mu.'
Adakah aku sedang menawar dengan Tuhan hari ini, alih-alih memercayakan diri kepada-Nya?
Tuhan, lepaskan aku dari kebiasaan menawar dan bernazar gegabah. Ajarilah aku percaya pada kasih-Mu yang cuma-cuma, dan berserah tanpa syarat. Amin.